Dampak dan Penanggulangan CyberBullying pada Anak Anda
oleh V A N A'Tech
Pernahkah anda mendengar atau membaca istilah Cyberbullying ?
Mungkin ada yang masih belum mengerti lantaran penggunaan kata cyber
kadang bersinggungan satu dengan lainnya. Ga mengapa, kita sama-sama
belajar untuk mengupasnya secara mudah dengan bahasa yang awam.
Sebagai pengantar, kami ingin kembali
membawa anda pada kenangan pada masa sekolah dulu. Kita pasti memiliki
banyak teman, masing-masing dengan kelebihan dan kekurangannya. Dalam
pergaulan tersebut terkadang yang kuat dan merasa diri super melakukan
penindasan secara fisik dan mental kepada yang lemah. Apalagi kalo anda
terlibat dalam kelompok atau gank, anda akan merasa super sebagai satu
kelompok yang ditakuti atau disegani oleh teman-teman lain.
Secara individu bagi yang merasa cantik,
cakep, pintar, kaya, kuat, garang, atau merasa diri berkuasa kerap
mengejek dan menakut-nakuti mereka yang dianggap kurang atau lemah.
Apalagi kalo hal ini dilakukan secara bekelompok. Secara sadar ataupun
ga, mereka sering memaki, mengancam, menakut-nakuti, membodohkan orang
lain, menganggap remeh, mengerdilkan atau menggosipkan orang lain secara
berlebihan. Tindakan seperti ini sering juga diikuti dengan tindakan
lain seperti mengecilkan, mengabaikan, mendiskriminasikan orang lain
karena orang tersebut berbeda secara suku, ras, agama bahkan status
sosial. Yang lebih parah lagi, kalo perbuatan seperti ini dilakukan juga
secara fisik seperti memukul, menampar, memalak, merampas barang orang
lain atau mengeroyok teman karena menganggap diri adalah senior.
Nah, semua perbuatan diatas apabila berlangsung terus menerus dalam waktu yang cukup lama, hal ini disebut dengan Bullying.
Seiring dengan perkembangan jaman, dimana teknologi telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Tindakan Bullying ini
dilakukan melalui internet maupun ponsel berupa pesan teks, gambar
maupun video. Di dunia internet, kerap hal ini dilakukan melalui
jejaring sosial, email atau chat messenger. Pelakuknya pun ga lagi
dilakukan oleh kelompok namun secara individu mereka sudah berani
melakukannya. Nah, tindakan bullying melalui fasilitas teknologi ini, apabila terjadi pada anak-anak disebut sebagai Cyberbullying. Sedangkan pada orang dewasa disertai tindakan lain yang lebih spesifik disebut sebagai Cyberharassment atau Cyberstalking. Kedua istilah terakhir akan saya bahas dalam artikel lainya. Namun yang perlu saya tegaskan bahwa Cyberbullying ini cukup meresahkan anak anda karena mudah dilakukan oleh siapa saja.
Untuk mengindentifikasi apakah anak anda pelaku atau korban dari Cyberbullying, secara mudah anda dapat membayakan akibat dan ciri-ciri dari penjelasan tentang bullying
di awal. Anda dapat bayangkan bagaimana jika anak anda adalah korban,
mereka akan terlihat murung, cepat marah, malas ke sekolah atau ga
percaya diri. Bahkan menurut artikel di sini, disebutkan bahwa akibat Cyberbullying melalui jejaring sosial, seorang remaja bernama Natasha MacBryde nekad bunuh diri pada bulan Februari 2011 karena mengalami cyberbullying
di situs Formspring. Gadis berusia 15 tahun tersebut sengaja berjalan
di atas rel kereta api sekitar 150 meter dari tempat tinggalnya di
Bromsgrove, Worcestershire, dan membiarkan dirinya tertabrak kereta yang
melintas.
Menurut Mashabe.com, Maret 2011. Adam
Hildreth, pendiri dan CEO Crisp Thingking, sebuah agensi yang mengawasi
bidang digital dan keamanan internet, dari 15 juta akun IM anak-anak
yang dianalisa, ditemukan 5,6 juta anak yang menerima pesan penghinaan
(bullying). Angka ini mungkin sudah ketinggalan jika mengacu pada
National Crime Prevention Council. Dewan tersebut mengklaim
cyberbullying berdampak pada hampir semua remaja Amerika. Sebanyak
19.000 usaha bunuh diri diketahui terjadi hampir setiap tahun di negara
Paman Sam tersebut karena cyberbullying. Dapat dibaca disini. Menyeramkan bukan ?
Bagi anak anda yang diidentifikasi menjadi korban dari Cyberbullying (Cyberbullied),
perhatikan betul perilakunya, apalagi bila dia tiba-tiba terlihat takut
atau enggan menggunakan ponsel atau internet atau bahkan sangat
emosional saat menggunakannya. Cepatlah bereaksi. Ajaklah dia berbicara
secara terbuka tentang penyebabnya. Berikan pemahaman dan tujukan bahwa
anda akan melindungi mereka dari ancaman apapun. Yakinkan mereka bahwa
anda sebagai orang tua, anda peduli dan ga akan diam. Ajari mereka untuk
ga merespon, karena kadang anak menjadi sangat emosional. Simpanlah
salinan dari semua pesan, untuk di laporkan ke sekolah atau pengelola
website. Jika pesan menyangkut ancaman jangan segan-segan untuk laporkan
ke polisi.
Jika anda melaporkan cyberbullying
ke sekolah, pastikan bahwa sekolah dapat menindaklanjuti dan mintalah
rencana dan pernyataan tertulis bagaimana sekolah akan menanggapi
masalah ini. Kebanyakan negara memiliki undang-undang untuk
perlindungan masalah ini, termasuk juga dengan Indonesia melalui
undang-undang perlindungan anak. Oleh karena itu, Sekolah sebagai
institusi pendidikan mempunyai kewajiban untuk mengatasi masalah ini,
apalagi siswanya terbukti terlibat.
Bagi anak anda yang diidentifikasikan berpeluang atau kedapatan melakukan cyberbullying, beritahu
mereka tentang dampak hukum, jangan mengancam namun berilah pemahaman
yang baik tentang etika pergaulan baik di dunia maya maupun di dunia
nyata. Perlu dicatat anak-anak korban cyberbullying, terkadang melakukan penyerangan yang sama untuk tindakan balas dendam.
Keprihatian terhadap dampak Cyberbullying
sudah lama dikampanyekan. Bahkan di Amerika Serikat, seperti yang
diberitakan oleh mashabe.com pada Maret 2011. Karena keprihatinan
terhadap Cyberbullying, Presiden Obama bersama
sang istri, Obama menyempatkan diri muncul di Facebook untuk
mengkampayekan cyberbullying melalui video yang dibuat secara eksklusif.
Kampanye ini merupakan pre-event acara bertajuk ‘White House Conference on Bullying Prevention‘. Mereka peduli, apakah anda juga peduli ?
Sekali lagi pehatikan dan awasi anak anda
dengan baik, jangan menganggap ini merupakan hal biasa. Saat ini,
dampaknya sudah semakin mengkhawatirkan
Lantas apakah efek atau akibat dari cyber bullying? Hal ini tentunya akan terkait terhadap psikis seseorang, karena serangan-serangan dari cyber bullying
lebih bersifat psikis daripada fisik. Psikis seseroang tentunya akan
berbeda dalam tiap masing-masing individu. Seseorang yang tidak peduli
atau tidak memusingkan terhadap cyber bullying yang menimpa
dirinya, dapat saja mengganggap hal tersebut merupakan fitnah yang tidak
benar dan menganggapnya angin lalu. Namun seseorang dengan psikis yang
rapuh (seperti anak-anak dan remaja) dan seseorang yang di-bully atas dasar sesuatu aib atau rahasia yang hendak dibuka di muka umum, tentunya akan menerima cyber bullying ini dalam keadaan yang berbeda. Kembali mengutip Australian Federal Police (AFP), akibat-akibat dari cyber bullying terhadap seseorang antara lain adalah:
- Rasa amarah;
- Rasa malu;
- Rasa takut;
- Performa buruk di sekolah / kuliah /dalam pekerjaan;
- Hilangnya rasa percaya diri;
- Keinginan untuk membalas dendam melalui cyber bullying yang serupa;
- Menyakiti diri sendiri, bahkan keinginan untuk bunuh diri
Akibat-akibat dari cyber bullying
yang disebutkan di atas tidak hanya terjadi secara satu per satu,
dimana dapat pula terakumulasi dan dapat berakibat depresi, bahkan
berakibat fatal seperti bunuh diri. Salah satu kasus bunuh diri yang
cukup menggegerkan dunia adalah kematian Amanda Todd (16 tahun) asal
British Columbia, Kanada yang menggantung dirinya akibat di-cyber bully oleh seorang pria.
Sumber : Kesehatan.Kompasiana.com







0 komentar:
Posting Komentar